Allah Tujuan Hidup Qita

Allah Tujuan Hidup Qita
Belajar dan Tawakal

Rabu, 13 Juli 2011

Menuju Jama’atul Muslilmin

Resume Buku “ Menuju Jama’atul Muslilmin”
by (SUHARYADI)
RAMBU-RAMBU SIRAH NABI SAW DALAM MENEGAKKAN JAMA’AH
1. Menyebarkan Prinsip-Prinsip Da’wah
1.1. Jalan Penyebaran
a.  Kontak pribadi
Cara ini oleh para ahli sirah Rasulullah saw disebut “tahapan sirriyah dalam da’wah”. Dalam tahap ini Rasulullah saw mendatangi secara pribadi kerabat dan teman-teman dekatnya yang dapat dipercaya untuk menjaga apa yang disampaikannya.
b.  Kontak umum
Cara ini oleh para ahli sirah disebut “tahapan da’wah terang-terangan”. Dalam tahap ini Rasulullah saw menggunakan beberapa sarana, diantaranya:
(1)   Mengumpulkan manusia dalam suatu jamuan makan dirumahnya
(2)   Mengumpulkan manusia diberbagai tempat, contoh di bukit Shafa
(3)   Pergi ketempat-tempat pertemuan manusia dan menyampaikan da’wah Allah kepada mereka
(4)   Pergi ke berbagai negara untuk menyampaikan da’wah
(5)   Mengirim surat kepada para kepala suku dan raja
2. Pembentukan Da’wah
Orang-orang yang berhenti pada rambu pertama dan tidak mau beralih pada rambu kedua adalah orang-orang yang berda’wah tidak sesuai dengan manhaj Rasulullah saw. Sasaran pada rambu kedua ini ialah mengubah akal yang jahiliyah kepada ilmu, hikmah dan ma’rifah, dan mengubah moral dan perilakunya dari kesesatan kepada kesucian.
2.1. Sisi Penataan
a.  Takwin dalam tahapan sirriyah
Takwin dalam keadaan ini Rasulullah saw membagi orang-orang yang telah menerima da’wahnya dalam beberapa kelompok kecil.
b.  Takwin dalam tahapan ‘alaniyah
Dalam tahapan ini takwin yang dilakukan Rasulullah antara lain
(1)   Membuat beberapa halaqah besar
(2)   Mengadakan perjalanan (rihlah) jama’iyah tertentu, dalam hal ini hijrah ke Habasya dan Madinah
(3)   Mengkondisikan situasi umum terhadap da’wah melalui khutbah-khutbah dan ceramah-ceramah umum.
c.  Takwin dalam keadaan keduanya
(1)   Dilakukan secara terang-terangan oleh tokoh-tokoh Quraisy, seperti Abu Bakar ra.
(2)   Dilakukan secara sirriyah oleh kelompok kaum muslimin yang lemah dan tidak memiliki dukungan kekuatan.
3. Konfrontasi Bersenjata Terhadap Musuh Da’wah
3.1. Momentum Konforntasi
Penentuan titik tolak konforntasi sepenuhnya wewenang pimpinan tertinggi jama’ah. Dan untuk mementukan titik tolak konfrontasi itu ada beberapa pengarahan
a.  Independensi tempat
Dalam hal ini jama’ah harus mengusai ekonomi, keamanan jalur komunikasi dan sarana pertahanan yang memadai. Selain itu jama’ah harus mempunyai basis geografis yang jelas. Ini penting sebagai pusat pertahanan dan pusat pembinaan.
b.  Jumlah yang memadai
Maksudnya anggota jama’ah hendaknya mencapai jumlah atau persentasi tertentu dibandingkan kekuatan musuh.
4. Sirriyah dalam Kerja Membina Jama’ah
Sirriyah adalah suatu prinsip yang sangat penting dalam gerakan pembinaan jama’ah, terutama pada tahap-tahap pertama, agar tidak diberangus dalam usia dini. Sirriyah hanya pada penataan (tanzhim) saja, bukan menyangkut pemikiran atau nilai-nilai Islam yang dikemukakan. Setiap individu dalam kerja sirri ini tidak boleh mengetahui tugas anggota yang lain, tetapi harus mengetahui tugas pribadinya.
5. Bersabar atas Gangguan Musuh
Sikap sabar ini tercermin dalm seluruh keadaan umat Islam di Mekkah sebelum hijrah.
6. Menghindari Medan Petempuran
Menjauhi konfrontasi pada tahap takwin adalah sikap yang diwajibkan Islam dan dituntut oleh jama’ah pada tahapan masih awal, karena ini juga merupakan upaya perlindungan bagi pelaksanaan ibadah kepada Allah SWT.

Tidak ada komentar: