Allah Tujuan Hidup Qita

Allah Tujuan Hidup Qita
Belajar dan Tawakal

Sabtu, 02 September 2023

DIKSI SEBAGAI SENI BAHASA DALAM MENULIS

Resume ke-18 yang ditulis Suharyadi (Peserta KBMN 29)

Moderator: Widya Arema

Narasumber: Maydearly

Alhamdulillah,  segala puji dan syukur, kepada Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Hari ini pertemuan ke-18 Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN).  Pada kegiatan hari ini dibersamai oleh moderator yang bernama ibu Widya Arema dan narasumber Ibu Maydearly Tema yang sangat menarik untuk diikuti di angkatan ke 29 ini yaitu “Diksi Sebagai Seni bahasa”.

Narasumber malam inI adalah Ibu Maesaroh, M.Pd seorang guru di SMPN 1 Lebak gedong, Kabupaten Lebak, Banten. Ia dilahirkan di Lebak pada tanggal 26 November 1989.  Pendidikan  pertama ditempuh di MI Al-Hidayah Cinyiru pada tahun 1996, kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Cipanas. Pendidkan SMA ia tempuh di SMA Negeri 1 Cipanas, dan lulus pada tahun 2008. Setelah itu, Ia melanjutkan Pendidikn S-1 di STKIP Setiabudhi Rangkasbitung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, lulus dengan memperoleh gelar sarjana pada tahun 2013. Kemudian kembali melanjutkan Pendidiikan Magister di Universitas Indraprasta PGRI Jakarta, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris pada tahun 2018, dan selesai menempuh gelar Magister Pendidikan Bahasa Inggris pada tahun 2020.

Rincian Buku yang dibuat Penulis:

1.         10 Buku Antologi

2.         2 Buku Kurator Jejak Pena Pengembara Aksara, dan Kisah Para Pendaki Mimpi

3.         Buku Duo Litersi Digital untuk Abad 21 bersama Prof. Eko Indrajit

4.         Buku Solo Trik Jitu Menjadi Penulis Milenial

5.         Buku Solo Episode 1 Januari 2020 dalam Kenangan

6.         Buku Solo Catatan Inspiratif

Pengalaman Mengajar

1.    Guru di SD Kristen Mardi Utomo (2009-2010)

2.    Guru di SMPN 2 Lebakgedong (2009 - 2014)

3.    Guru di SDN 2 Ciladaeun (2010 - 2012)

4.    Guru di SMKN 1 Lebakgedong (2015 - 2017)

5.    Guru di SMPN 1 Lebakgedong (2011 - Sekarang)

6.    Asisten Dosen di Kampus STKIP Setiabudhi (2010 - 2012)

Pengalaman Narasumber :

1.     Narasumber Webinar Assesment of Product and Project for US di MGMP Wilbi 3 Kab. Lebak

2.     Teacher Training and Consultancy di ProNative (Maret 2021)

3.     Narasumber Kelas Menulis PGRI

4.     Narasumber Kelas Menulis WIMP MPA

5.     Narasumber Kelas Guru Motivator Literasi Digital (GMLD)

Pengalaman Organisasi :

1.  Ketua ELOS di STKIP Setiabudhi (2010 - 2012)

2.  Pengurus MGMP Bahasa Inggris WILBI 3 di Bidang Pengembangan dan Inovasi (2017- Sekarang)

3.  Pembina OSIS SMPN 1 Lebakgedong (2017-2021)

4.  Kepala Pustakawan SMPN 1 Lebakgedong (2021)

5.  Pembina LKIR SMPN 1 Lebakgedong (2021)

6.  Ketua Pelatihan Menulis PGRI Gelombang 18 (2021)

7.  Admin Grup Pelatihan Menulis Gel. 18,19,20,21,22.

8.  Admin Grup Pelatihan Menulis WIMP MPA Angkatan 1

9.  Admin Tim Solid Omjay Pelatihan Menulis

10.  Founder Kelas Menulis Remaja Berkarya (Gelar Tikar/Tinta Karya)

11.  Founder Kelas Menulis Pucuk Diksi

Motto dalam hidup Beliau "Menulislah untuk hidup seribu tahun". Perkenalan dengan narasumber lebih jauh dapat dilihat dengan mengakses link berikut ini: https://maydearly.blogspot.com/2021/07/biodata.html.

Apa yang terbayang oleh kita jika disebut kata diksi? Mampukah kita berdiksi? Diksi adalah bagian dari seni sebuah bahasa  baik lisan maupun tulisan. Diksi adalah pelengkap suatu sastra. Sebuah karya akan bernilai epic apabila ia menyadur diksi yang menarik. Diksi bukanlah gaya bahasa, tetapi sebuah padanan kata yang bertujuan untuk memberi kesan menarik hingga mampu memikat hati pembaca. William Shakespeare dikenal sebagai sastrawan yang sangat piawai dalam menyajikan diksi melalui naskah drama. Ia menjadi mahaguru bagi siapa saja yang berminat menuliskan romantisme dipadu tragedi. Diksi Shakespeare relevan untuk menulis karya yang bersifat realita maupun metafora. Gaya penyajiannya sangat komunikatif, tak lekang digilas zaman.

Diksi secara akar katanya berasal dari bahasa Latin yaitu dictionem. Kemudian di­­serap ke dalam bahasa Inggris menjadi diction, kata kerja yang berarti pilihan kata. Maksudnya, pilihan kata untuk menuliskan sesuatu secara ekspresif sehingga tulisan tersebut memiliki ruh dan karakter kuat, mampu menggetarkan atau mempermainkan pembacanya.

Dalam sejarah bahasa, Aristoteles, filsuf dan ilmuwan Yunani inilah yang memperkenalkan diksi sebagai sarana menulis indah dan berbobot. Gagasannya itu ia sebut diksi puitis yang ia tulis dalam Poetics yang merupakan salah satu karyanya. Seseorang akan mampu menulis indah, khususnya puisi, maka harus memiliki kekayaan yang melimpah, diksi puitis. Gagasan Aristoteles dikembangkan fungsinya, bahwa diksi tidak hanya diperlukan bagi penyair menulis puisi, tapi juga bagi para sastrawan yang menulis prosa dengan berbagai genre-nya.

Cara mudah menulis kalimat dengan diksi yang bagus yaitu dengan langkah-langkah:

1.  Sense of Touch adalah menulis dengan melibatkan indera peraba. Indra peraba dapat digunakan untuk memperinci dengan apik tekstur permukaan benda, atau apapun. Penggunaan indra peraba ini sangat cocok untuk menggambarkan detail suatu permukaan, gesekan, tentang apa yang kita rasakan pada kulit. Aplikasi indra peraba ini juga sangat tepat digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tidak terlihat, seperti angin misalnya. Atau, cocok juga diterapkan untuk sesuatu yang kita rasakan dengan menyentuhnya, atau tidak dengan menyentuhnya.

Contohnya: Pada pori-pori angin yang dingin, aku pernah mengeja rindu yang datang tanpa permisi.

2.  Sense of Smell adalah menulis dengan melibatkan indra penciuman. Dengan hal ini akan membuat tulisan kita lebih beraroma. Teknik ini akan lebih dahsyat jika dipadukan dengan indra penglihatan.

Contoh: Di kepalaku wajahmu masih menjadi prasasti, dan aroma badanmu selalu ku gantungkan di langit harapan.

3.  Sense of Taste adalah menulis dengan melibatkan indra perasa. Merasakan setiap energi yang ada di sekitar kita. Penggunaan indra perasa sangat ampuh untuk menggambarkan rasa suatu makanan, atau sesuatu yg tercecap di lidah.

Contoh: Remah-remah kata terucap semanis karamel, Arsenik bual manja layaknya cuka apel. Meski diam terbungkam tetap asam dan asin bak menelan Botulinum Toxin.

4.  Sense of Sight adalah menulis dengan melibatkan indra penglihatan. Teknik ini memiliki prinsip “show, don’t tell". Selalu ingat, dalam menulis, cobalah menunjukkan kepada pembaca (dan tidak sekadar menceritakan semata). Buatlah pembaca seolah-olah bisa “melihat” apa yang tengah kita ceritakan. Buat mereka seolah bisa menonton dan membayangkannya.  Prinsip utama dan manjur dalam hal ini adalah DETAIL. Tulislah apa warnanya, bagaimana bentuknya, ukurannya, umurnya, kondisinya.

Contoh: Derit daun pintu mencekik udara di tengah keheningan, membuatku tersadar jika kamu pernah kutinggali sebagai pijar luka yang menganga.

5.  Sense of hearing adalah menulis dengan melibatkan energi yang kita dengar. Begitu banyak suara di sekitar kita. Belajarlah untuk menangkapnya. Bagaimana caranya? Dengarlah, lalu tuliskan. Mungkin, inilah sebab mengapa banyak penulis sukses yang kadang menanti hening untuk menulis. Bisa jadi mereka ingin menyimak suara-suara yang ada di sekitarnya. Sebuah tulisan yang ditulis dengan indra pendengaran akan terasa lebih berbunyi, lebih bersuara. Selain itu, penulis juga bisa berkreasi dengan membuat hal-hal yang biasanya tak terdengar menjadi terdengar.

Contoh: Aku padamu seperti angin yang berlalu begitu saja, kini yang kupunya hanya melupa atas lara dari sajak jingga yang cedera.

Menulislah dengan melibatkan kelima panca indra, tantangan dari narasumber  kepada peserta malam ini dalam waktu 10 menit di antaranya:

1.            Ratna :  Langit terlihat mendung, namun hujan masih enggan untuk sudi turun menyirami bumi. Padahal saya yakin penghuni bumi berharap hujan yang turun akan mampu menyapu debu yang telah sekian lama menutupi permukaan bumi.”

2.         Sholeh : “Di malam bersama dinginya angin, Kunanti sejak terbenamnya matahari, Pertemuan ke-18 KBMN PGRI 29, Ditemani cahaya rembulan malam.

3.            Darti :Ku teguk segelas manisnya madu di tengah riuh reda dan hiruk pikuk nya dunia maya.

4.            Kamila: Terlukis beban dalam realita yang tak kunjung padam, Kejenuhan mulai  nampak di permukaan, Namun tak mampu melawan keadaan,Hanya diam di sepanjang malam, Sambil menahan sakit yang teramat dalam, Curahan hati seorang insan, Yang terbelenggu dalam ikatan pekerjaan, Entah sampai kapan insan tersebut bertahan, Mengingat waktu terus berjalan.

5.            Fanni : Rindu ini selalu tersimpan untukmu, Selalu Petikan dawai gitar tetangga sebelah rumah, Senandungkan lagu lama tentang kau dan aku, Berteman desir angin yang menyapu bulu Roma, ku gerakan jari jemariku membuka tiap lembar materi dari sang penuntun tuk raih diksi yang sudah lama ku nanti, Hari ini hujan turun dengan derasnya, membasahi hati yang merana, menyiram luka . Kulihat awan mendung bergayut sendu, menambah rasa sepi sendiri. Kutelan duka lara pahit terasa, namun terselip sedikit asa ,  masa depan  tetap akan bersinar cemerlang, dan mendung hitam berangsur sirna,  jangan kau pergi terlalu jauh, wahai pemilik qolbu, tetaplah disini disisi yang selalu menanti, menanti untuk selalu ditemani, Nabastala terlihat cerah, Sunyi senyap tanpa irama, Menandakan malam telah tiba, Kini saatnya selimut menutupi, Di kala waktu istirahat tiba.

Pada sesi penutupan MAYDEARLY memberikan motivasi, Seorang penulis sejati adalah apabila Ia sedang semangat atau sedang tidak semangat Ia akan tetap tersenyum dan selalu bisa mengeluarkan ide-ide yang baik.

Alhamdulillah, Masya allah materi malam ini sangat bermanfaat dan menginspirasi. Terima kasih Tim Solid Om Jay khususnya Ibu Widya Arema sebagai moderator dan narasumber Ibu Maydearly. Jazakumullohu Khoir. Semoga tulisan ini juga bermanfaat bagi penulisnya dan pembaca tentunya.

Tidak ada komentar: